Assalamulaikum Wr Wb, "Selamat Datang di Blog Kumpulan Kisah-Kisah Inspiratif,Give Inspiration, Motivation and Enlightenment, Untaian kisah yang menginspirasi dan membangkitkan semangat dikala lemah,Selamat Meyelami Kedalaman Samudera Kisah-Kisah yang Penuh Makna"

Sabtu, 19 Februari 2011

10 Bocah Super Ajaib Dari Penjuru Dunia


1. Kim Ung-Yong : Manusia Ber-IQ Tertinggi di Dunia
Lahir pada tahun 1962, Anak dari Korea ini dinobatkan sebagai manusia jenius di seluruh dunia. Bayangkan Pada unur 4 tahun, dia sudah bisa membaca huruf Jepang, Korea,Jerman,Inggris. Pada umur 5 tahun ia mampu memecahkan masalah pada soal kalkulus. ia mencatatkan dirinya pada Guinness Book of World Records dengan “Highest IQ” 210.

2. Gregory Smith : Mendapatkan Penghargaan Nobel Pada Usia 12

Lahir pada tahun 1990, Gregory Smith mencatatkan namanya pada nobel perdamaian berkat usahanya dalam mendirikan International Youth Advocates yang merupakan perkumpulan Orang muda seluruh dunia. Ia pernah bertemu langsung dengan Presiden Bush, dan juga Michael Gorbacev lho…

3. Akrit Jaswal : Dokter Bedah usia 7 tahun
Julukan “anak terpandai di dunia” telah melekat pada Akrit Jaswal, seoarang anak dari India. Ia mengejutkan Publik, ketika pada umur 7 tahun melakukan pembedahan pada seorang gadis lokal di tempatnya.

Gadis itu menderita luka bakar di tangannya, hingga tangannya tidak dapat dibuka, dan jaswalpun melakukan pembedahan hingga jemari gadis itu bisa terbuka seperti sedia kala. Saat ini, ia tercatat sebagai dokter paling muda di dunia, ia diterima di Universitas pada usia 11 tahun.

4. Cleopatra Stratan : Bocah Penyanyi Berusia 3 Tahun dengan Gaji 1000€ per lagu

Lahir Pada 6 Oktober 2002 di Chisinau. ia adalah pencatat sejarah di Industri musik sebagai seorang penyanyi. Dengan albumnya tahun 2006 La vârsta de trei ani (”pada usia 3″). Dia mencatat record seorang artis cilik yang tampil diatas panggung dengan ribuan penggemarnya. Dia juga menerima penghargaan MTV Award dalam artis termuda yang mencetak #1 Hit

5. Aelita Andre : Pelukis di usia 2 tahun
Anak kelahiran Australia ini, baru berumur dua tahun sudah menunjukkan kualitasnya sebagai jenius, ia memiliki sebuah gedung pertunjukkan untuk karya-karya abstraknya.

Pada mulanya Mark Jamieson, direktur dari Brunswick Street Gallery di Melbourne’s Fitzroy. Tretarik melihat sebuah poto lukisan dari Aelita Andre. dan dia menginginkannya bergabung dalam grupnya karena bakat lukisannya itu. Ketika undangan telah dibuat, ia baru saja menyadari bahwa Aelitaadalah anak yang masih berumur 22 bulan. Namun ia tetap melanjutkan pertunjukannya itu.

6. Saul Aaron Kripke : Mengajar Havard saat Masih Duduk di Bangku SMA
Lahir di New York dan tumbuh dewasa di Omaha di 1940. Jenius satu ini, saat kelas empat ia menguasai aljabar, saat akhir SD ia sudah bisa geometri, kalkulus dan filsafat. Saat SMU ia memperoleh surat dari Harvard agar melamar sebagai dosen, namun ibunya menyuruhnya untuk menamatkan sekolahnya dahulu. Kripke dihadiahi Schock Prize, Nobel Filosofi. Sekarang, ia dinobatkan sebagai ahli filsafat terbesar dalam sejarah

7. Michael Kevin Keaulus : kuliah pada umur 10 tahun

Kaerny, lahir tahun 1984, ia menyelesaikan kuliah pada umur 10 tahun. dan tercatat sebagai sarjana termuda. ia mengajar universitas pada usia 17 tahun. Namanya semakin mencuat kala dia memenangkan sebuah kuis online. Pada 2006, dia mencapai final di tanda burnett/aol perebutanGold Rush, permainan menguji/teka-teki, dan menjadi pemenang pertama 1 juta di permainan kenyataan online.

8. Fabiano Luigi Caruana : Grandmaster pada usia 14
Seorang anak berwarga negara America dan Italia ini sungguh jenius. Pada tahun 2007 ia memperoleh Grandmasternya, 11 bulan, 20 hari. sejarah telah mencatat namanya dalam Grandmaster termuda.

Dan baru-baru ini pada bulan April 2009, ia memperoleh Elo rating 2649, dalam usianya yang dibawah 18 tahun, membuatnya sebagai pemeroleh ranking terbanyak, dan menakjubkan, hal itu dilakukannya sebelum usianya genap 18 tahun.

9. Willie Mosconi : Pemain Bilyard Professional pada usia 6
Mendapat julukan “Tuan Pocket Billiards”. Dia berasal dari Philadelphia, Pennsylvania. Ayahnya seorang pemilik tempat Billyard, namun ayahnya tidak mengizinkannyamain, ia sering berimprovisasi dengan gagang sapu milik ibunya. Ayahnya melihat bakat anaknya, ia sering mengalahkan orang-orang yang lebig tua darinya.

Antara tahun 1941 dan 1957, dia memenagkan BCA World Championship selama 15 kali tanpa perbah kalah sekalipun. ia memebuat berbagai macam trik, membuat banyak rekor, dan membuat billyard menjadi olahraga yang terkenal.

10. Elaina Smith : Penyiar Usia 7 tahun

Dalam usianya yang 7 tahun Elaina telah menjadi penyiar radio dengan pendengar yang melebihi umurnya. Elaina banyak memberikan solusi tentang percintaan kepada para pendengarnya. Bagaimana caranya memutuskan pacar, Bagaimana caranya untuk membina hubungan yang harmonis.


Sumber: http://situslakalaka.blogspot.com/2010/10/10-bocah-super-ajaib-dari-penjuru-dunia.html
Read more »

Ajaib ! Bocah 11 Tahun Sudah Jadi Sarjana





BOCAH AJAIB: Moshe Kai Cavalin, termuda di kampus.(MSNBC)
BOCAH ini mungkin menjadi sarjana termuda di dunia. Dalam usia 11 tahun, Moshe Kai Cavalin telah lulus kuliah dari East Los Angeles College, Jumat (5/6). Bahkan, ia memperoleh dengan IPK 4,0 alias sempurna. Luar biasa!



Bocah dari seorang ibu berdarah Taiwan dan ayah Israel ini, seperti dilansir Dailymail, memulai studi di perguruan tinggi pada usia 8 tahun dan menjadi mahasiswa termuda di kampusnya. Yang menarik, dia justru memberi les privat bagi teman-teman sekelasnya yang berusia 19-20 tahun dalam mata pelajaran matematika dan fisika.



Walaupun begitu, Moshe menolak disebut sebagai bocah jenius. “Saya hanya anak biasa yang belajar tekun dan melakukan yang terbaik,” katanya, dalam wawancara dengan MSNBC, Sabtu (6/6).

Selain dikenal sebagai bocah berprestasi, Moshe juga mahir seni bela diri dan memenangkan sejumlah kejuaraan seni berperang. “Saya tidak tertarik dengan video game, karena permainan itu tidak memberi keuntungan bagi umat manusia,” uacpnya.
 
Bocah yang mengidolakan Albert Einstein dan Bruce Lee ini berencana ingin belajar menyelam dan menulis buku mengenai anak-anak. Ia juga ingin menulis buku mengenai kiat-kiat sukses di sekolah.
 
sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=72449
Read more »

Seorang nenek berkeliling Rusia dengan Sepeda

Tak ada kata tua untuk dapat berprestasi dan meraih hal yang sensasional, mungkin kata itu sangat pantas ditujukan pada Seorang wanita Rusia bernama Yulia Mikhailyuk yang sudah berusia 70 tahun, bagaimana tidak, hanya dengan mengayuh sepeda, nenek itu berhasil menjelajahi Rusia.


Pensiunan dari kota Tver Rusia itu menghabiskan 3 bulan untuk berkeliling Rusia dengan sepedanya, dengan berbekal tekad yang kuat serta makanan dan uang secukupnya, ia memulai petualangan yang tak akan dapat dilupakan. Ia mengawali petualangan bersepedanya dari kota Tver di daerah Rusia tengah dan berakhir di Petropavlovsk-Kamchatsky on the Kamchatka peninsula, yaitu sebuah wilayah yang berada di ujung Timur negara Rusia, Total nenek ini sudah menempuh perjalanan lebih dari 8.000 kilometer dengan sepedanya.




Nama Yulia Mikhailyuk kini tercatat di Russian Guinnes book of records sebagai salah satu penjelajah sepeda tertua di rusia, Bahkan perjalanan bersepeda sepanjang 8.000 kilometer ini bukanlah yang pertama baginya, sebelumnya ia pernah bersepeda sampai 20.000 kilometer beberapa tahun yang lalu. Weleh weleh.....

Dan walaupun sudah mencatat banyak prestasi, ia masih tetap belum puas, ia berencana untuk melakukan penjelajahan yang lebih extreme lagi

“Everybody says I’d better stay with my grandsons and knit socks for them… but my daughters-in-law think the opposite. They say: ‘Yulia Ivanovna, we’re so lucky to have such a good mother like you’,” begitulah jawabnya saat ditanya oleh Russian First Channel perihal petualanganya.

Memang prestasi tak hanya dapat diraih di waktu muda, di waktu tua pun kita tetap bisa berprestasi asalkan mau berusaha dan mempunyai tekad yang kuat.

 Sumber: http://sekedar-tahu.blogspot.com/2010/07/seorang-nenek-berkeliling-rusia-dengan.html
Read more »

Jumat, 18 Februari 2011

Pesankan saya tempat di neraka !!! (sebuah kisah tragis dari mesir)

Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya…
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar.

Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut?
Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!
sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria.

Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” begitu kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat… Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…mumpung kesempatan itu masih ada.
               
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2675622

Read more »

Lelaki Pendek, Hitam dan Lebih Jelek dari Untanya

"Ada  berjuta orang baik yang tidak kita kenal. Ada berjuta orang baik yang tak pernah dikenal dan memilih tidak dikenal. Mereka mencintai pilihan hidup yang juga dicintai Allah. Jika mereka tidak tampak mereka tidak dicari orang, dan pabila mereka tampak mereka juga tidak dikenali orang. Dan diantara mereka, mungkin saja adalah orang-orang yang jauh lebih baik, lebih terhormat, dan lebih luas ilmu dan pengetahuannya , lebih taat kepada Allah, hanya saja mereka memilih tidak dikenal.Karena menjadi baik tidak serta-merta harus dikenal"


Di Baqi’ yang hening, kampung kecil dipinggiran Madinah, Rasulullah seperti biasanya meyampaikan nasehat-nasehatnya. “Siapa yang pada hari ini mengeluarkan shadaqah, maka aku akan memberikan kesaksian baginya disisi Allah pada hari kiamat,” begitu Rasluulah mengabarkan berita gembira.

Tak lama, datang seorang penduduk,orang itu begitu hitam kulit mukanya, paling pendek diantara mereka. Bahkan lelaki ini dianggap paling hina diantara mereka. Lelaki itu datang membawa unta yang sangat bagus. Tak ada satupun unta yang lebih bagus dari untanya.

“Apakah  unta ini untuk shadaqah?” Tanya Rasulullah.
“Benar wahai Rasulullah,” jawab lelaki itu.
Tiba-tiba ada orang yang berkomentar mengejeknya. “Dia menshadaqahkan untanya? Padahal untanya lebih bagus dari dirinya?”

Mendengar perkataan itu, Rasulullah tidak senang dan berkata, “Kamu sangat keliru, itu tidak benar. Bahkan orang ini lebih baik dari dirimu dan dari untanya. Engkau keliru.”

Rasulullah bahkan mengulang perkataan itu tiga kali. Lalu menambahkan, “Beruntunglah orang yang zuhud, dan juga berusaha, beruntunglah orang yang zuhud, dan juga berusaha.”

Begitulah lelaki hitam da pendek penduduk Baqi’ itu, sebuah fragmen tentang orang baik yang dilecehkan. Ia bukan saja tidak terkenal, bahkan ia dianggap paling hina diantara semua warga kampung itu. Wajahnya hitam, tubuhnya pendek.untanya lebih ‘ganteng’ dari dirinya.

Pola pikir “Lelaki pendek, hitam, lebih jelek dari untanya”, seperti itu, sesungguhnya telah mewabah.Kita hidup ditengah masyarakat yang hanya melihat harga orang lain dari tampilan luarnya. Maka disini berlaku hukum ketenaran, keterkenalan, kemasyuran. Sesuatu yang sangat mudah direka-reka oleh media massa dan semakin mengokohkan bahwa menjadi terkanal saat ini tidak harus karena kebaikan. Media bisa membuat yang buruk tampil terkesan baik, alami. Sebaliknya, media bisa pula menampilkan orang-orang baik, dalam format yang kumal, lusuh dan tak punya gairah hidup. Semua itu telah memaksa alam bawah sadar  orang-orang bahwa orang-orang besar dan terkenal itu adalah mereka yang berulang-ulang muncul ditelevisi, tampil diatas panggung, menyeruak diatas pentas. Padahal, ada berjuta orang baik yang tak kita kenal. Ada berjuta orang baik yang tak pernah dikenal. Ada berjuta orang baik, yang seumur hidupnya, hingga akhir hayatnya, tak pernah sedikitpun muncul ditelevisi, koran, majalah dan media massa lainnya.
 
Memahami prinsip ini penting, agar kita tidak pernah sedetikpun merasa lebih baik dari orang lain, dalam hal apa saja. Agar kita tidak mengukur kebaikan dengan kacamata kita sendiri. Dan memunculkan kesadaran dalam diri kita untuk selalu berbenah, menata diri, dan meningkatkan kebaikan, serta memahami bahwa menjadi baik itu tidak serta merta harus terkenal, disorot oleh media.

Imam Syafi’i sendiri mengajarkan kepada kita bahwa menjadi baik, tidak harus terkenal, ketika beliau berkata, “Saya ingin sekali manusia mengetahui ilmu, dan tidak menisbahkannya sedikitpun pada saya selama-lamanya” Ia lantas memberi alasan, “Agar aku diberi pahala karenanya, dan meraka tidak memujiku.”

Dalam makna yang lebih mendalam, Rasulullah seperti yang disampaikan Anas bin Malik, bersabda, “Berapa banyak orang yang kusut dan berdebu, memakai selembar pakaian lusush, yang tidak mengundang perhatian, namun sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi).

Ada berjuta orang baik yang tidak kita kenal, sangat mungkin diantara mereka, adalah orang yang jauh lebih baik, lebih terhormat, lebih banyak kebajikannya, lebih luas ilmu dam pengetahuaannya. Mereka memilih tidak dikenal. Mereka mencintai pilihan hidup yang juga dicintai Allah, seperti sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang sembunyi-sembunyi, miskin, bertakwa dan berbuat kebaikan. Jika meraka tidak tampak meraka tidak dicari orang, apabila mereka tampak meraka juga tidak dikenali orang. Hati meraka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari segala cobaan yang buta dan gelap”

Sumber: Tarbawi
Read more »

Kamis, 17 Februari 2011

Biarlah, Hanya Allah Yang Mengenalku

     Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf. Tu’rafuna fi ahlis-sama’ wa tukhfuna fil ahlil ardli. Berusahalah agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walaupun tak seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian. Rasulullah SAW menyebut tipe  manusia ini dengan sebutan Al Akhfiya’; manusia-manusia tersembunyi. Beliau juga mengatakan Allah Azza wa jalla sangat mencintai manusia tipe ini. Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, yang penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan kemashyuran.

     Dan ini adalah salah satu kisah tentang meraka. Ia hidup dimasa tabi’in. Namun  hingga hari ini tak satu buku sejarahpun yang dapat menyingkap identitas   pria ini. Satu-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu. Periwayat kisah ini adalah seorang tabi’in bernama Muhammad ibn al-Munkadir rahimullah.

                                                               ***
     Malam itu sudah  terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasanya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu.Sudah setahun ini kota Madinah tidak pernah mendapatkan curahan air dari langit. Entah telah berapa kali penduduk kota berkumpul melakukan shalat istisqa’ demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes hujanpun yang turun menemui mereka.

      Dan malam itu, seperti kebiasaannya bila sepertiga akhir malam menjelang , Muhammad ibn al Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas ke mesjid Rasulullah. Usai mengerjakan shalat malam itu, ibnu al-Munkadir bersandar kesalah satu tiang mesjid. Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk menhetahui siapa sosok itu. Agak sulit sebab malam telah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapai ia sama sekali tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain dilantai mesjid itu. Dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri yang berada dalam mesjid itu. Ia tidak menyadari kehadiran ibnu al-Munkadir tidak jauh dari tempat berdirinya.

     Ia berdiri mengerjakan shalat dua raka’at. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyuk ia bermunajat. Dan dalam munjat itu, ia mengatakan, “Duhai Tuhanku, penduduk negeri haram-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung mengaruniakannya pada meraka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon kepada-Mu curahkanlah hujan itu untuk mereka.

     Ibnu al-Munkadir yang mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. “Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu,” katanyadlam hati. “Orang-orang shaleh seantero Madinah telah keluar untuk berdoa meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan….Lalu tiba-tiba, orang ini berdoa pula…,” gumamnya.

     Namun sungguh diluar dugaan, belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua  tangannya, tiba-tiba saja suara Guntur begemuruh dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menetes ke bumi. Sudah lama tak begitu. Tak terkira betapa gembira pria itu.Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Allah Ta’ala. Namun tidak lama kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhu’an, “Duhai Tuhanku, siapakah aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?”

     Ibnu al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tidak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka’at-raka’atnya . Hingga ketika saat subuh menjelang, sebelum kaum muslimin lainnya bedatangan, ia segera menyelesaikan witirnya. Dan ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk kedalam shaf seolah-olah ia baru saja tiba dimesjid itu. Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan mesjid Rasulullah. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air. Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang. Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. la benar-benar tidak tahu ke mana pria hitam itu pergi.
                                                             ***
     Dan malam kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad ibn al-Munkadir kembali mendatangi mesjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin. Ia mengerjakan shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di mesjid itu. Dan saat sang imam mengucapkan salam, pria itu tidak menunggu lama. Persis seperti kemarin, ia bergegas meninggalkan mesjid itu. Dan Ibn al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong, dan setibanya di depan sebuah rumah ia masuk ke dalamnya. "Hmm, rupanya di situ pria ini tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya."
                                                             
                                                              ***
      Matahari telah naik sepenggelahan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha-nya, Ibn al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata ia sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu.
Begitu ia melihat Ibn al-Munkadir, ia segera mengenalinya. "Marhaban wahai Abu 'Abdullah -begitulah Ibn al-Munkadir dipanggil-! Adakah yang bisa kubantu ? Mungkin engkau ingin memesan sebuah alas kaki ?" ujar pria itu menyambut kedatangan Ibn al-Munkadir.
    Namun Ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. "Bukankah engkau yang bersamaku di mesjid kemarin malam itu?".
    Dan tanpa diduga, wajah pria itu nampak sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi ia berkata,"Apa urusanmu dengan itu semua, wahai Ibn al-Munkadir?!"

   "Nampaknya ia sangat marah. Aku harus segera pergi dari sini," ujar Ibn al-Munkadir dalam hati. Dan ia pun segera pamit meninggalkan rumah tukang sepatu itu.
                                                              ***
      Ini adalah malam ketiga sejak peristiwa itu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu Ibn al-Munkadir berjalan menuju mesjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Satu hal yang agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat pria tukang sepatu itu. Setibanya di mesjid dan mengerjakan shalat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali terlihat di depan matanya.

     Namun malam semakin malam, namun pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibn al-Munkadir tersadar. Ia telah melakukan suatu kesalahan. "Inna lillah' Apakah yang telah kulakukan??" itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.

    Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan mesjid itu dan mendatangi rumah sang tukang sepatu. Namun yang temukan hanya pintu rumah yang terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata,"Wahai Abu 'Abdullah ! Apa yang terjadi antara engkau dengan dia ?"
"Apa yang telah terjadi?" tanya Ibn al-Munkadir.

     "Ketika engkau keluar dari sini kemarin itu, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tidak satu pun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tidak tahu kemana ia pergi hingga kini," jelas penghuni rumah itu.

    Dan sejak hari itu, Ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil. Dan hingga kini di abad 14 Hijriyah ini, kita pun tidak pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, "Biarlah, hanya Allah yang mengenalku..."[]

Sumber: Rindu seorang Mujahid, Abul Miqdad al-Madany 2006

Read more »

Rabu, 16 Februari 2011

Kisah Unik: Kekuatan Argumen Seorang Bocah



Saya diberitahu oleh seorang kawan yang jujur (seorang wakil kepala sekolah), bahwa dirinya pernah masuk ke sebuah masjid di Riyadh. Ketika sedang melaksanakan shalat Tahiyatul masjid, saya terganggu dengan bau rokok yang sangat menyengat hingga membuyarkan kekhusyu’an saya. Selesai salam, saya menoleh dan menemukan seorang pria mesir yang bibirnya menghitam karena rokok. Saya berkata dalam hati bahwa saya akan menunggu sampai shalat jama’ah selesai lalu saya akan berbicara dan menasehatinya. Namun, saya dikejutkan oleh seorang bocah kecil yang usianya tidak lebih 9 tahun. Bocah itu masuk ke mesjid dan duduk disamping pria tersebut. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka sebagai berikut:
Bocah: “Assalamu’alaikum, Paman! Anda dari Mesir?”
Pria: “Ya, aku dari Mesir.”
Bocah: “Anda tahu Syaikh Abdul Hamid Kasyk?”
Pria: “Ya, aku tahu.”
Bocah: “Syaikh Muhammad Al-Ghazali?”
Pria: “Ya, aku tahu.”
Bocah: “Anda pernah mendengarkan kaset-kaset ceramah dan fatwa mereka?”
Pria: “Ya, pernah.”
Bocah: “Baik. Para ulama dan para Syaikh itu semuanya menyatakan bahwa
            rokok itu haram. Mengapa Anda merokok?”
            Pria (mulai gelagapan): “Tidak. Rokok tidak haram.”
            Bocah: “Ya, haram. Bukankah Allah berfirman, “dan Dia mengharamkan hal-hal
            yang kotor bagi mereka.” (QS.Al-A’raf:157)”
            Jika mau merokok, apakah anda membaca bismillah? Dan jika selesai, apakah anda membaca Alhamdulillah?”
            Pria (dengan congkak): “Tidak. Tapi, aku tidak menemukan ayat-ayat yang berbunyi, “Dan Dia mengharamkan rokok bagi kamu.”
            Bocah: “Paman! Rokok itu haram. Sama seperti apel yang juga haram.”
            Pria (sambil marah): “Apel haram? Atas dasar apa kamu menghalalkan dan mengharamkan sesuatu?”
            Bocah: “Tolong tunjukkan pada saya ayat-ayat yang berbunyi: “Dan Dia menghalalkan apel bagi mereka.”
            Pria itu benar-benar gelagapan, bungkam dan tidak bisa berkata-kata, lalu tangisnya meledak. Saat shalat dilaksakan, pria itu masih menangis. Dan setelah selesai shalat pria itu menoleh kerah bocah tersebut dan berkata, “Dengar, nak! Aku bersumpah demi Allah Yang Maha Agung, aku tidak akan merorok lagi selama hidupku.”
             Saudara-saudara! Ini adalah kisah nyata dan unik. Bagaimana mungkin bocah kecil ini bias berbicara dengan kekuatan dan argument yang mengagumkan seperti itu. Lebih-lebih pada zaman sekarang ini zaman Playstation dan hal-hal yang tidak bermutu.

Sumber: Mausu'atul qashal mu'atsirah, Ahmad Salim Baduwailan, 2007.

Read more »

Selasa, 15 Februari 2011

KITA PERLU SERIBU WANITA SEPERTINYA


Kisah nyata ini dialami oleh Syaikh Ahmad Ash-Shuyan. Pada edisi Al-Bayan 138, ia mengatakan, "Saya pernah mengikuti wisata dakwah ke Bangladesh bersama tim dokter. Tim ini mendirikan kemah untuk mengadakan pengobatan sakit mata. Suatu hari seorang lelaki tua bersama istrinya menemui dokter dengan ragu-ragu dan bingung. Ketika dokter yang bertugas mengobati itu mendekat, tiba-tiba si istri menangis dan menggigil ketakutan. Dokter itu mengira bahwa wanita tersebut kesakitan akibat penyakit yang dideritanya. Lalu ia bertanya kepada suaminya mengenai hal itu. Sambil menahan air mata si suami menjawab, "Dia menangis bukan karena sakit. Dia menangis karena dia akan terpaksa membuka wajahnya kepada laki-laki lain."

Tadi malam dia tidak bisa tidur karena gelisah dan bingung. Dia berkali-kali menegur saya. "Apakah kamu rela bila aku membuka wajahku?" tanyanya.
Dia baru mau datang untuk berobat setelah saya bersumpah untuknya dengan sumpah yang berat, bahwa Allah memperbolehkan hal itu dalam kondisi darurat. Karena Allah $g berfirman, "Tapi barangsiapa yang terpaksa, tidak menginginkannya dan tidak nielampaiti batas, maka tidak ada dosn baginya." (QS. Al-Baqarah:173).

Saat dokter mendekatinya, ia menjauh dan bertanya, "Anda muslim?" "Ya," jawabnya. Lalu ia berkata, "Jika anda muslim, maka saya minta kepada anda dengan nama Allah untuk tidak membuka penutup saya. Kecuali jika anda merasa yakin bahwa Allah memperbolehkan hal itu bagi anda!"
Operas! terhadap wanita itu berjalan dengan sukses, Selaput putih di matanya berhasil dihilangkan dan ia pun bisa melihat kembali berkat karunia Allah.
Suaminya mengatakan bahwa istrinya pernah berkata, "Andaikata tidak ada dua hal, niscaya aku lebih suka bersabar menerima keadaanku dan tidak ada laki-laki lain yang menyentuhku." Yakni membaca Al-Qur'an, dan melayanimu beserta anak-anakmu. Betapa besar keteguhan hati wanita ini terhadap kemuliaan dan kehormatan dirinya. Dan betapa indahnya bila wanita terlihat terpelihara dan bangga dengan penutup auratnya.
Betapa mulianya iman yang tampil secara nyata, jujur, jauh dari sikap yang dibuat-buat dan berlebihan, serta bersih dari unsur ni/n' (parner) dan noda-noda hawa nafsu.

Bandingkan dengan wanita-wanita yang merusak rasa malunya dan menyerahkan dirinya kepada para penyeru kenistaan dan jura kampanye modernisasi. Akibatnya, mereka selalu memperturutkan syahwatnya, lalu berlomba-lomba dalam merusak dan melepaskan norma-norma yang adiluhung. Bandingkan mereka dengan wanita yang teguh menjaga kehormatan dan kesuciannya dalam kisah ini!
Dan, betapa hati ini tersayat-sayat pilu dan sedih terhadap gadis-gadis remaja yang takluk kepada hawa nafsunya. Dengan penuh kelalaian dan kebodohan mereka menyerahkan diri kepada setiap orang yang bersuara.

sumber: Mausu'atul qashal mu'atsirah, Ahmad Salim Baduwailan, 2007.
Kisah nyata ini dialami oleh Syaikh Ahmad Ash-Shuyan. Pada edisi Al-Bayan 138, ia mengatakan, "Saya pernah mengikuti wisata dakwah ke Bangladesh bersama tim dokter. Tim ini mendirikan kemah untuk mengadakan pengobatan sakit mata. Suatu hari seorang lelaki tua bersama istrinya menemui dokter dengan ragu-ragu dan bingung. Ketika dokter yang bertugas mengobati itu mendekat, tiba-tiba si istri menangis dan menggigil ketakutan. Dokter itu mengira bahwa wanita tersebut kesakitan akibat penyakit yang dideritanya. Lalu ia bertanya kepada suaminya mengenai hal itu. Sambil menahan air mata si suami menjawab, "Dia menangis bukan karena sakit. Dia menangis karena dia akan terpaksa membuka wajahnya kepada laki-laki lain."

Tadi malam dia tidak bisa tidur karena gelisah dan bingung. Dia berkali-kali menegur saya. "Apakah kamu rela bila aku membuka wajahku?" tanyanya.
Dia baru mau datang untuk berobat setelah saya bersumpah untuknya dengan sumpah yang berat, bahwa Allah memperbolehkan hal itu dalam kondisi darurat. Karena Allah $g berfirman, "Tapi barangsiapa yang terpaksa, tidak menginginkannya dan tidak nielampaiti batas, maka tidak ada dosn baginya." (QS. Al-Baqarah:173).

Saat dokter mendekatinya, ia menjauh dan bertanya, "Anda muslim?" "Ya," jawabnya. Lalu ia berkata, "Jika anda muslim, maka saya minta kepada anda dengan nama Allah untuk tidak membuka penutup saya. Kecuali jika anda merasa yakin bahwa Allah memperbolehkan hal itu bagi anda!"
Operas! terhadap wanita itu berjalan dengan sukses, Selaput putih di matanya berhasil dihilangkan dan ia pun bisa melihat kembali berkat karunia Allah.
Suaminya mengatakan bahwa istrinya pernah berkata, "Andaikata tidak ada dua hal, niscaya aku lebih suka bersabar menerima keadaanku dan tidak ada laki-laki lain yang menyentuhku." Yakni membaca Al-Qur'an, dan melayanimu beserta anak-anakmu. Betapa besar keteguhan hati wanita ini terhadap kemuliaan dan kehormatan dirinya. Dan betapa indahnya bila wanita terlihat terpelihara dan bangga dengan penutup auratnya.
Betapa mulianya iman yang tampil secara nyata, jujur, jauh dari sikap yang dibuat-buat dan berlebihan, serta bersih dari unsur ni/n' (parner) dan noda-noda hawa nafsu.

Bandingkan dengan wanita-wanita yang merusak rasa malunya dan menyerahkan dirinya kepada para penyeru kenistaan dan jura kampanye modernisasi. Akibatnya, mereka selalu memperturutkan syahwatnya, lalu berlomba-lomba dalam merusak dan melepaskan norma-norma yang adiluhung. Bandingkan mereka dengan wanita yang teguh menjaga kehormatan dan kesuciannya dalam kisah ini!
Dan, betapa hati ini tersayat-sayat pilu dan sedih terhadap gadis-gadis remaja yang takluk kepada hawa nafsunya. Dengan penuh kelalaian dan kebodohan mereka menyerahkan diri kepada setiap orang yang bersuara.

sumber: Mausu'atul qashal mu'atsirah, Ahmad Salim Baduwailan, 2007.

Read more »

Minggu, 13 Februari 2011

Muhammad Alexander Pertz: Kisah Bocah Amerika Menemukan Islam dalam Buku

     
 ALEXANDER PERTZ dilahirkan dari kedua orang tua Kristen pada tahun 1990. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis, maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
     Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar azan.
    Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslim pun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah SAW yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut balik bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?” Wartawan itu berkata: ”Tidak.” Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?” dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”

       Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (serban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan azan sebelum dia shalat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat.”
       Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat, kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam.”

Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apa cita-citamu?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku ingin haji ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Aku sudah menabung dengan mengumpulkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
....Aku sudah menabungkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar....
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain?” tanya wartawan kepada sang bocah.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka,” jawab Muhammad.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka dia pun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
....Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, menghafal Al-Quran, dan belajar di negeri Islam....
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan
“Tentu!” tukasnya.
”Apakah engkau memiliki kesulitan dalam hal makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau shalat di sekolah?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan. Aku shalat di sana setiap hari,” jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau mengizinkanku untuk mengumandangkan azan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan azan. Subhanallah!! [riafariana/voa-islam.com]


sumber:  http://www.voa-islam.com/news/upclose/2011/01/19/12852/muhammad-alexander-pertz-
             kisah- bocah-amerika-menemukan-islam-dalam-buku/

Read more »

Sabtu, 12 Februari 2011

Contoh-Contoh Yang Mengagumkan Dalam Memanfaatkan Waktu

     By: Ahmad Bin Ismail Khan


Bercermin kepada genarasi salafus shaleh umat ini, dimana mereka telah menorehkan contoh-contoh yang mengagumkan dalam memanfaatkan waktu, detik-detik umur dan setiap hembusan nafas untuk amal kebajikan.Dengan mengetahui jalan hidup orang-orang saleh dan kesungguhan mereka mereka dalam memanfaatkan detik-detik umur mereka dalam ketaatan, memiliki pengaruh besar dihati seorang muslim,yaitu pengaruh dalam menumbuhkan dan membangun gairah untuk memanfaatkan waktu dan memaksimalkan deti-detik usia dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada Allah. Mari kita telusuri kisah indah dan uniknya mereka dalam memaksimalkan waktu:

  • Para genarasi salafus shaleh umat ini sangat bersemangat untuk menjaga waktu hingga dalam keaadaan sakit dan sakratul maut

- Al Biruni, ( 362 H-440H),seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta,ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India.Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya.Tidak lama setelah itu beliau wafat.

- Ibrahim bin Jarrah berkata, “ Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya.Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.Ketika tersadar, dia berkata kepadaku,”hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?” Saya menjawab, “Dalam kondisi ini seperti ini?” Dia menjawab, “Tidak apa-apa, kita terus belajar.Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.Lalu aku pulang.Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan.Ternyata ia telah wafat.

-Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku, ,’sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki.Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bisa mencegah datanya sakit? Dokter itu pun menjawab , ‘Benar.’ Lantas saya katakana, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu,dan tabiatku semakin kuat dengannya.Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.Lalu dokter itu menmpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.


  • Mempersingkat Waktu makan, serta mengurangi makan agar tidak selalu sering ke WC

Kesungguhan genarasi salafus shaleh umat ini dalam memanfaatkan waktu sampai pada tingkat bahwa mereka merasa sayang dengan waktu yang dipakai untuk makan, maka mereka mempersingkat sebisa mungkin.

-Dawud At-Tha’i rahimahullah memakan alfatit ( roti yang di basahi dengan air).Dia tidak memakan roti kering (tanpa dibasahi).Pembantunya bertanya, “Apakah anda tidak berhasrat makan roti?” Dawud menjawab, Saya mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca 50 ayat antara memekan roti kering dan basah” ( Sifatus Shafwah, 3/92)

-Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menceritakan kepada kita, “ Ibnu Aqil berkata,”Aku menyingkat semaksimal waktu-waktu makan, sehingga aku lebih memilih memakan kue kering yang dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan roti kering, karena selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih pendek daripada waktu memakan rot keringi) bisa aku gunakan untuk membaca dan menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Dia melakukan hal itu supaya bisa memanfaatkan waktu lebih). (Dzailut Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab,1/177)

-Asy-Syamsul Ashbahani, (674H-749 H), seorang tokoh mahzab Syafii, pakar fiqih dan tafsir .Apa yang diceritakan tentang beliau menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan ‘pelitnya’ beliau untuk menyia-nyiakan waktu.Sebagian sahabatnya pernah menuturkan bahwa beliau sangat mengindari makan yang banyak,yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya butuh waktu masuk WC. Sehingga waktu pun banyak terbuang.Lihatlah! bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan imam yang mulia ini. Dan tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa sangat mahalnya ilmu tersebut.

  • Memanfaatkan waktu perjalanan dengan membaca buku, berzikir, menuntut ilmu, bahkan menyampaikan hadist.

-Said bin Jabir berkata, “ Saya pernah bersama Ibnu Abbas berjalan disalah satu jalan di Mekah malam hari.Dia mengajari saya beberapa hadis dan saya menulisnya di atas kendaraan dan paginya saya menulisnya kembali diatas kertas” (Sunan Ad-Darimi, Imam Ad-Darimi,1/105)

-Tentang Al Fath bin Khaqan, beliau membawa kitab dalam kantong bajunya.Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk shalat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tempat ingin dia tuju.Beliau juga melakukan hal tersebut ketika kembali dari keperluanya.( Taqyiidul ‘Ilm, Al Khatib Al-Baghdadi )

-Imam An-Nawawi  setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut.Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik diwaktu siang atau pun malam, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu.Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ngulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang telah ditelaahnya sambil berjalan.Beliau melakukan itu selama enam tahun.  (Tadzkiratul Huffaz, Adz- Dzahabi, 4/1472).

- Ibnu Khayyath An-Nahwi, wafat tahun 320 H. Konon, beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang, beliau terjatuh ke seleokan, atau tertabrak binatang.( Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilm wal ijtihad fi jam’ihi, Abu Hilal Askari,hal 77)


  • Memanfaatkan waktu-waktu makan, saat istirahat , bahkan saat di Kamar kecil ( WC) sekalipun untuk membaca atau mendengar ilmu.

-Ahmad bi Ali berkata kepada Abdur Rahman bin Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah, “Apa penyebabnya anda banyak mendengar hadis dari bapakmu? Dan anda banyak bertanya kepadanya?” Dia menjawab, mungkin karena ketika dia makan, saya belajar hadis kepadanya.Ketika berjalan, saya belajar kepadanya.Ketika dia buang hajat, saya belajar kepadanya dan ketika dia masuk rumah untuk mencari sesuatu, saya belajar kepadanya.” (Siyar A’lamin Nubala, Imam Adz-Dzahabi,13/50)

-Simaklah cerita Ibnu Aqil Hambli rahimahullah tentang bagaimana ia menjaga waktunya, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, sehingga apa bila lisanku telah lelah membaca dan berdiskusi, mataku telah lelah membaca, maka aku menggunakan pikiran aku dalam keadaan beristirahat ( berbaring di tempat tidur).Aku tidak akan berdiri, kecuali telah terlintas di benakku apa yang akan aku tulis. Dan aku mendapati kesungguhanku belajar ilmu dalam usia 80 tahun lebih kuat daripada apa yang kudapati ketika aku berumur 20 tahun.” ( Al Muntadzim fi Tarikhil Umam, Ibnu Jauzi, juz 9)

-Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Telah memberitahukan kepadaku saudara Syaikh kami, Abdur Rahman bin Abdul halim Bin Taimiyah dari ayahnya berkata, “ Adalah kakek ( yaitu Majdudin Bin Taimiyah ) apa bila ia masuk WC, dia berkata kepadaku, “Bacalah buku ini untukku, keraskanlah suaramu sehingga aku mendengarkannya. Maka Ibnu Rajab mengomentari, “ hal ini menunjukkan akan kuatnya antusias beliau terhadap ilmu, sekaligus semangatnya untuk menggapainya, dan juga penjagaan beliau terhadap waktunya.( Dzailuth Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/24)


-Ibnu Nafis seorang ulama dan dokter terkemuka yang unggul, ia senantiasa menjaga setiap waktunya dan kesempatannya guna menorehkan ide dan pemikirannya, justru disaat-saat yang paling unik dan asing bagi yang lainnya.Beliau adalah pemuka dan orang yang terkemuka dalam ilmu kedokteran,dan memiliki banyak karya dalam bidang kedokteran. Diceritakan bahwa beliau mencatat sejumlah persoalan kedokteran disela-sela mandinya yaitu mengenai denyut nadi.Beliau lahir di Damaskus tahun 610H ,dan wafat di Kairo pada tahun 687 H.( Raudharul Jannat ,Al Khawanisari)

  • Melakukan dua aktivitas yang berbarengan sekaligus, untuk mengoptimalkan waktu-waktu yang tersedia.

Sungguh Ulama salaf sangat berhati-hati sekali menjaga waktunya, mereka tidak akan membiarkan waktunya terbuang percuma dan berlalau sia-sia.Mereka cerdas dalam melakukan optimalisasi waktu. Meraka mampu merangkum dua kegiatan sekaligus dalam waktu yang berbarengan.Seperti yang telah disebutkan diatas, mereka berlajar sambil jalan, mendengarkan ilmu ketika di WC, memecahkan persoalan yang rumit disela-sela mandinya, membaca buku saat makan, berlajar disela-sela kesibukan dagang, memikirkan ide dan gagasan ilmu disaat berbaring diatas kasur, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang mengagumkan tentang potret ulama salah dalam optimaliasisi waktu. Bahkan tetap memanfaatkan waktu, ketika memenuhi kewajiban mengadiri undangan, menerima tamu.

-Ibnu Jauzi tetap bekerja tanpa meninggalkan berbicara saat dikunjungi tamu. Beliau menuturkan sendiri tentang bagaimana beliau memanfaatkan waktunya, “ Saat saya menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang paling berharga, maka sudah menjadi kewajiban memanfatkan waktu tersebut untuk berbuat kebajikan.Maka saya tidak menyukai kebiasaan tersebut ( maksudnya kebiasaan bertamu yang tidak membawa manfaat yang banyak terjadi didalamnya obrolan tak tentu arah, duduk berlama-lama, pen), dan tidak suka berlama-lama dengan mereka, karena dua hal.Kalau saya menyalahkan mereka,maka akan terjadi kekurangakraban karena tindakan itu berarti memutus pertalian hati.Kalau saya mengikuti mereka,maka waktu terbuang sia-sia.Akhirnya saya berusaha mengindari pertemuan sebisa mungkin.Kalau saya kalah,maka saya cukup berbicara sedikit saja agar cepat berpisah.Kemudian saya sengaja menyiapkan berbagai pekerjaan sambil terus berbicara pada saat berjumpa dengan mereka, agar waktu tak terbuang sia-sia.Untuk menyiapkan pertemuan dengan mereka, saya sengaja meotong-motong kertas, meraut pensil, mengikat buku-buku.Karena semua itu adalah aktivitas yang memeng harus dilakukan, tanpa harus berpikir dan berkosentrasi.Maka, semua pekerjaan itu saya siapkan untuk saat pertemuan dengan mereka,agar waktu saya tidak terbuang secara sia-sia. ( Saidul Khatir, Ibnu Jauzi)

-Imam Sulaim Ar-Razi, ia wafat pada tahun 447 H.Beliau amat militan dalam menjaga sifat waranya.Beliau selalu melakukan introspeksi dalam soal waktu.Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu tanpa manfaat, dengan terus menulis, mengajar, membaca tau menyalin ilmu dalam jumlah banyak. Abu faraj menuturkan, “Al-mualli bin hasan pernah menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Sulaim Ar-Razi sedang memegang pena yang matanya sudah habis.Ia memotong kayu diujung penanya, sambil bibirnya bergerak-gerak. Al-Mu’amil akhirnya tahu, bahwa ia membaca sesuatu sambil memperbaiki penanya, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia”.Yakni, saat kedua tangannya bekerja, beliau menggerak-gerakkan bibirnya untuk berzikir, agar tidak ada waktu berlalu sia-sia, tanpa melakukan ibadah kepada Allah. (Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Wustha,Tajuddin As-Subki)

-Ada ulama yang mensayatkan kepada orang yang mengundangnya ke acara walimahan agar disediakan baginya tempat yang agak lapang, guna meletakkan bukunya, yang akan beliau baca disela-sela mengadiri pesta tersebut.Kalau tidak ada,mka beliau lebih memelih tidak mengadiri acara tersebut.


  • Mengurangi tidur, dan mengisi malamnya dengan menuntut Ilmu dan ibadah

Sebagian besar manusia waktu malamnya dimanfaatkan untuk tidur, Jika pun tidak digunakan untuk tidur, mereka menggunakannya bergadang untuk hal-hal yang sepele, yang tidak membawa manfaat uyntuk dunia dan akhiratnya. Namun tidak bagi generasi salafus shaleh umat ini mereka menyadari kemulian zaman, mereka tahu akan hakekat waktu, waktu cepat berlalu, kalau berlalu tidak akan bisa kembali lagi.Mereka menyadari bahwa umur itu singkat, waktu boleh sama tapi prestasi harus beda.Tidak ada jalan lain bagi mereka selain mengurangi tidur mereka.


-Muhammad bin Hasan Asy- Syaibani tidak tidur malam kecuali sangat sedekit sekali.Beliau adalah seorang imam ahli fikih, ahli ijtihad dan ahli hadis.Beliau lahir tahun 132 H, dan wafat 189 H.Konon beliau sering tidak tidur malam.Beliau biasanya meletakkan beberapa jenis buku disisinya.Bila bosan membaca satu buku, beliau akan menelaah yang lain.Beliau menghilangkan rasa kantuk dengan air, sembari berujar ‘ Sesungguhnya tidur berasal dari panas’.” ( Miftahus Sa’adah wa Misbahus Siyadah, I:23).

-Gurunya Imam An Nawawi berkata tentang Al-Hafizh Al- Mundziri, “Saya belum pernah melihat dan mendengar seorang pun yang paling bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu selain dirinya.Ia senantiasa sibuk di waktu malam dan siang hari.Saya pernah berdampingan dengannya disebuah madrasah di Kairo.Selama 12 tahun, rumahku berada diatas rumahnya.Selama itu pula saya belum pernah bangun malam pada setiap jammya, melainkan cahaya lampu senantiasa menyala dirumahnya, sedangkan ia hanyut dalam ilmu.Bahkan ketika makan pun ia sibuk dengan ilmu.( Bustanul Arifin, Imam Nawawi)

-Imam An-Nawawi sorang imam yang terkemuka,syaikhul islam, dan banyak menhasilkan karya tulis.Beliau datang ke Damaskus pada tahun 649 H dan menetap disana yaitu di Madrasah Ar-Rawahiyah.Beliau berkata tentang diri beliau, “Saya menetap disana selama dua tahun.Selama itu, saya nyaris tidak pernah tidur.”Beliau berhasil menghafal kitab At-Tanbih selama 4,5 bulan dan membaca seperempat kitab Al-Muhazzab dengan hafala.(Tadzkiratul Huffaz, Adz-Dzahabi)

Berikut ini Orang-Orang Besar yang mampu mengoptimalkan Waktunya:

  1. Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang.
  2. Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Quran dalam sebuah mush’af
  3. Abu Hurairah : Masuk Islam usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!).
  4. Anas bin Malik : Pelayan rasulullah sejak usia 10 tahun, dan bersama rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.
  5. Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebaganyak tiga lemari.
  6. Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.
  7. Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.
  8. Ibnu Jarir Ath-Thabari, beliau menulis tafsir Al-Qur’an sebanyak 3000 lembar,menulis kitab Sejarah 3000 lembar.Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 lembar selama 40 tahun.Total karya Ibnu Jarir 358.000 lembar.
  9. Ibnu Aqil menulis kitab yang paling spektakuler yaitu Kitab Al-Funun, kitab yang memuat beragam ilmu, adz-Dzahabi mengomentari tentang kitab ini, bahwa didunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya.Menurut Ibnu Rajab,sebagian orang mengatakan bahwa jilidnya mencapai 800 jilid.
  10. Al-Baqqilini tidak tidur hingga beliau menulis 35 lembar tulisan.
  11. Ibnu Al Jauzi senantiasa menulis dalam seharinya setara 4 buah buku tulis.Dengan waktu yang dimilikinya,beliau mampu menghasilkan 2000 jilid buku.Bekas rautan penanya Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, bahkan masih ada sisanya.
  12. Iman An-Nawawi setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut.Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini.
  13. Thomas Alva Edison, si jenius tak berijazah yang berhasil menciptakan bola lampu pijar pada 1879 pada percobaannya yang keseribu kali. Thomas Alva Edison Menghabiskan Waktu di Laboratorium Demi Sebuah Bola Listrik yang Bercahaya. Dia menghabiskan hari-harinya untuk merancang eksperimen-eksperimen tersebut di laboratorium. Meskipun berulang kali mengalami kegagalan, tapi hal itu tak pernah menyurutkan langkahnya untuk menciptakan karya yang saat itu dianggap muskil oleh kebanyakan orang. Ketika eksperimennya berhasil, beliau mengatakan bahwa sebenarnya dirinya tidak mengalami kegagalan dalam eksperimen-eksperimen sebelumnya, tetapi hanya melakukan sedikit kesalahan saja. Perkataan inilah yang telah menjadi motivasi baginya, sehingga beliau tidak melewatkan sedikitpun dari waktu-waktu berikutnya untuk terus meneliti dan meneliti.

Masih banyak lagi contoh-contoh luar biasa lainnya. Kenapa tidak banyak orang yang bisa menyamai mereka? Padahal waktu yang diberikan Allah kepada mereka sama dengan waktu yang diberikan Allah pada hambaNya yang lain? Jawabannya adalah kecerdasan manajemen waktu.

Inilah keadaan orang-orang besar dan kisah-kisah mereka, beginilah seharusnya kita memanfaatkan setiap detik waktu kita.Lalu bagaimana dengan kita? Saudaraku, mereka beruntung sementara engkau terlelap.Mereka meraih kemenangan, sementara engkau meraih tangan kosong.Maka segera kita manfaatkan detik-detik umur kita, tekadkan dalam hati bahwa hari ini kita akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, memandang setiap kesempatan adalah penting.Mari persembahkan karya yang paling baik dan bermanfat, diusia kita yang pendek ini.

wasssalam
Ahmad Bin Ismail Khan

Bacaan Referensi:
1. Qimatuz Zaman ‘indal ‘Ulama,SyaikhAbdul Fatah.
2. Khams Wa ‘Isyrun Wa Mi’ah Li Hifdzil Waqti, Abul Qa’qa Muhammad Bin Shalih.
3. Beberapa artikel dari internet yang berhubungan dengan menjaga waktu.

Read more »

 
Cheap Web Hosting | Top Web Hosts | Great HTML Templates from easytemplates.com.